Thursday, 4 September 2008

Saat-saat melahirkan


Proses melahirkan Rayhan sebenarnya sama dengan Audrey yaitu melalui sectio caesar, dengan step-step yang sama, bedanya proses SC ini lebih mendebarkan bagi aku karena aku sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh para dokter. Bagi sebagian orang, sudah mengetahui apa yang akan terjadi membuat tenang, tapi bagiku malah membuatku tegang, karena aku tahu setiap step SC itu tidak ada yang menyenangkan. Dan entah mengapa, aku menyadari dengan jelas setiap step proses operasi, padahal waktu audrey dulu, aku seperti fly, hampir-hampir gak menyadari apa yang terjadi pada diriku.

Dimulai dari malam hari tanggal 7 Agustus 2008. Belajar dari pengalaman waktu melahirkan Audrey, aku dan Ipit memutuskan untuk datang malam hari saja, lagipula Audrey minta dia ditemani tidur dulu baru kami boleh pergi. Ternyata oh ternyata, karena tanggal 8 Agustus 2008 adalah tanggal keramat alias banyak yang minta melahirkan tanggal itu, maka orang-orang yang check-in untuk proses SC keesokan harinya amatlah penuh. Ruangan PK atau ruangan melahirkan seperti pasar malam, semua tempat tidur penuh, dan orang-orang hilir mudik... Yang menyedihkan, Rumah Sakit bukanlah Hotel, jadi walaupun kami sudah booking untuk kamar kelas Utama, tapi karena banyaknya yang melahirkan ditanggal yang sama, kamar kelas Utama sudah penuh, harus di-down grade ke kelas 1. Ipit kesal banget, dan ngomel panjang pendek mengurusi administrasi, sementara aku sudah harus memasuki tahapan proses SC.

Tahapan pertama adalah melakukan CTG yaitu untuk mengecheck detak jantung bayi, lalu EKG untuk mengecheck detak jantuk ibu, tekanan darah, denyut nadi, ambil darah untuk sampel PMI dan check alergi. Sedangkan pemeriksaan laboratorium sudah aku lakukan beberapa hari sebelumnya dan hasil sudah diserahkan ke team dokter yang akan melakukan operasi. Hasil EKG-ku dan tekanan darahku tidak menggembirakan, karena tekanan darahku tinggi, berkisar antara 130-150/80-90. Sampai-sampai aku mesti dipasangi infus dan dipasang alat pemantau tekanan darah. Para suster menyuruh aku tenang dan jangan stress supaya tekanan darahku normal... lah, aku gak stress cuma takut mau dioperasi saja...hehehe.

Paginya tanggal 8 Agustus, jam 5 pagi aku sudah mandi dan rapi, siap dijemput untuk operasi. Ipit gak sempat mandi, secara juga kamar kelas I tidak mengijinkan keluarga yang menginap untuk mandi di kamar pasien. Aku dijemput jam 5.30, dibawa keruangan persiapan kelahiran, dan ketemu dr. Judhi yang sedang bersiap-siap untuk mengoperasi pasien jam 6. Lalu proses selanjutnya dilakukan, pemasangan alat infus dan cukur kelamin.

Jam 7.15 aku memasuki ruangan operasi. Lalu dipasangi alat-alat pantau jantung dan alat-alat lainnya dan disuntik epidural. Sumpah deh... suntik epidural ini gak enak banget, harus duduk bersila lalu punggung ditekuk... kebayang gak, sedang hamil besar disuruh duduk posisi seperti itu... dan lebih gak enak ketika jarum suntik mulai masuk diantara tulang punggung (backbone). Rasa nyeri lalu ada sensasi seperti aliran listrik yang mengalir dari punggung ke tangan dan kaki. Ketika kakiku seperti dialiri listrik seperti itu, seorang suster memasukkan slang untuk BAK... rasanya sih gak sakit tapi sensansinya aneh, karena bagian tubuhku bagian bawah itu seperti disengat listrik setiap kali disentuh.

Lalu Dr. Judhi datang, dengan senyum-nya yang khas, dia tanya apakah aku masih dapat merasakan kakiku, aku bilang masih Dok... aku takut banget dia akan memulai operasi padahal aku masih dapat merasakan kakiku, belum mati rasa. Lalu dokter anastesi memberitahuku bahwa yang namanya bius epidural itu memang pasien akan tetap merasakan sentuhan dibagian tubuh tapi tidak akan merasakan nyeri.... aduh Tuhan, aku mendadak panik, pengennya dibius total aja deh.

Operasi dimulai jam 7.30. Aku tahu proses membuka perutku ini hanya 10 menit dan proses menjahitnya sekitar 40 menit. Jadi 10 menit itu benar-benar mendebarkan, aku dapat mendengar dr. Judhi ngobrol lalu melakukan sesuatu diperutku. 10 menit serasa lama sekali berlalu. Lalu aku merasakan perutku ditekan dan perutku diobok-obok, aku tahu ini proses mengeluarkan sibayi dari perutku.... tapi kok rasanya lama sekali... perutku gak enak banget, seperti diguncang-guncang... lalu seperti mengempis dan rasanya perutku enak banget, kosong banget, lega banget... gak berapa lama terdengar tangis bayi... suaranya keras dan berat... seperti tangisan marah... aku tersenyum, aku tahu, my baby boy sedang marah karena dibangunkan dari tidur nyamannya dan dipaksa lahir kedunia yang kejam ini.

Gak lama dokter anak membawa my baby ke aku, dia memberitahuku kalau jenis kelamin anakku lelaki seraya memperlihatkan alat kelaminnnya. Jujur, aku gak perlu dikasih lihat alat kelaminnya, aku sudah tahu dia lelaki, aku pengen lihat mukanya. Tapi si dokter malah melakukan IMD, Inisiasi Menyusui Dini, yang karena aku dioperasi jadi dia hanya langsung mengarahkan mulut kecil si bayi ke payudaraku. Aku sempat melihat sekilas wajahnya, ganteng tapi rasanya dia lebih gelap daripada kakaknya.

Lalu aku merasakan nyeri yang amat sangat diulu hatiku, aku kasih tahu suster, tapi si suster malah pergi, katanya sih nyari dokter anastesi. Karena sakitnya makin kerasa, aku kasih tahu dokter Judhi, gak lama si suster datang dan menyuntikkan sesuatu ke tempat infusku dan gak lama aku tidak ingat apa-apa lagi. Begitu terbangun sudah hampir jam 08.30 dan para dokter sudah tidak ada, yang tinggal hanya suster-suster yang sedang berbenah. Lalu aku digiring ke ruang pemulihan.

Aku sempat bersyukur karena kali ini aku tidak muntah-muntah seperti waktu melahirkan Audrey. Tapi ternyata aku salah, kali ini reaksi obat bius ditubuhku lebih parah, aku muntah-muntah sampai jam 10 malam dan tubuhku gatal-gatal seperti kena ulat bulu sampai 3 hari. Ditambah lagi dengan alat deteksi tekanan darah dan selang oksigen, aku persis seperti orang yang sedang sekarat, aku yakin setiap orang yang menjengukku saat itu pasti miris melihat kondisiku. Padahal Dr. Judhi dan Dr. Anastesi nyantai aja melihatku, karena mereka tahu ini hanya pengaruh obat bius.

Karena tanggal keramat ini, ruangan pemulihan juga penuh banget, maklum hampir tiap setengah jam ada aja yang melahirkan, jadinya ruangan tempatku ini yang seharusnya hanya diisi satu orang kali ini diisi sampai tiga orang. Dengan kondisiku, ruangan seperti ini benar-benar tidak menolongku.

Yang menghiburku tentu saja setiap kali sikecil Rayhan dibawa ke-aku untuk menyusu, atau tepatnya belajar menyusu. Aku gak peduli dengan rasa sakit yang kurasakan karena disuruh tidur miring agar Rayhan dapat ditaruh ditanganku dan mulutnya diarahkan ke payudaraku. Pengennya sih dia tetap diposisi seperti itu terus, tapi rasanya baru sebentar sudah dijemput oleh suster dengan alasan Rayhan kedinginan, atau kawatir aku muntah dan mengenai Rayhan.

Waktu rasanya berjalan sangat lambat, aku sudah tidak sabar ingin berlama-lama dengan Rayhan, apalagi Rayhan semakin jarang dibawa ke-aku, karena kondisiku yang semakin sering muntah, padahal kayaknya segala macam obat anti muntah sudah disuntikkan. Menjelang jam 10 malam, rasa kangenku ke Rayhan semakin tak tertahankan, aku bertekad gak akan muntah lagi supaya bisa dipertemukan dengan Rayhan. Ketika suster menanyakan apakah aku mau dipindahkan saja ke kamar, aku dengan suka cita menyambutnya.

Ternyata keinginan kuatku untuk berlama-lama dengan Rayhan membuat semua pengaruh obat bius itu hilang, Alhamdulillah, benar seperti yang sering dibicarakan orang, rasa cinta ibu dan anak dapat menyembuhkan semua rasa sakit dan menghilangkan semua rintangan.


Alhamdulillah juga, rumah sakit tempat Rayhan lahir ini sangat mendukung ASI Eksklusif, jadi Rayhan benar-benar hanya mendapatkan ASI dariku tanpa tambahan apapun selama di Rumah Sakit. Juga Rumah Sakit ini pendukung rooming-in, jadi walaupun capek dan masih sakit karena operasi, aku senang sekali bisa mengurusi Rayhan sejak hari pertama dia lahir didunia ini.

0 comments: